Persepsi Pelaku UMKM terhadap Laporan Keuangan

Persepsi Pelaku UMKM terhadap Laporan Keuangan

Category : UMKM

Bahwa sebagian besar para pelaku UMKM merasa pencatatan keuangan adalah hal yang rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Karena itu, seperti kasus yang terjadi pada MixMax Shop” [1], tidak ada catatan sama sekali berapa uang yang dipakai sebagai modal, untuk operasional, dll. Bahkan pencatatan transaksi akan dibuang manakala proses transaksi sudah selesai dan pembayaran dari pelanggan sudah dilakukan.

Apa yang terjadi pada MixMax Shop terjadi juga pada CV Resureksi [2], meskipun pengusaha telah mempunyai akte pendirian CV, pengelolaan keuangan sama sekali tidak diperhatikan. Pada CV Resureksi, semua nota penjualan disimpan, namun tujuan penyimpanan hanya untuk melihat apakah penjualan dengan cara kredit (bayar dibelakang) sudah dibayar oleh customer ataukah belum, karena begitu pembayaran telah diterima, segera catatan penjualan akan dibuang karena dirasa sudah tidak perlu.

“……kalau melihat keadaan yang sekarang ini, dimana pekerjanya adalah aku sendiri dan Piping (suaminya), belum terlalu membutuhkan pencatatan laporan keuangan yang tertib…” (Eva – CV Resureksi).

“…Tidak ada, semua tak rekam disini (sambil menunjuk kepalanya sendiri). Tidak ada catatan cashflow, sebenarnya pengen bikin seperti itu tapi susah menjalaninya..” (Syani – Mix Max Shop).

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada usaha Sahabat Jaya Katering [3], Pengelola (pemilik) mengakui pencatatan transaksi harian tidak pernah dilakukan secara teratur, yang dilakukan hanya sebatas pencatatan jenis dan banyaknya bahan yang harus dibelanjakan dari setiap pesanan yang akan dikerjakan. Setiap selesai acara maka catatan-catatan tersebut akan dibuang. Pemilik beralasan karena tidak ada orang yang fokus untuk mengurusi hal-hal yang menyangkut laporan keuangan, serta usaha yang dijalani dirasa bisa jalan tanpa harus membuat catatan keuangan yang tertib. Karena merasa bahwa tidak perlu dilakukan pencatatan keuangan secara tertib, maka yang terjadi kemudia pelaku UMKM tidak mengetahui berapa uang yang telah dipakai untuk belanja modal dan berapa  untuk  belanja pribadi.

Ketiadaan laporan keuangan pada UMKM umumnya dimulai pada keengganan mencatat setiap transaksi yang terjadi. Pencatatan transaksi merupakan kegiatan mencatat setiap transaksi yang berhubungan dengan kegiatan usaha. Sudah seharusnya semua transaksi yang berhubungan dengan kas, pembelian, penjualan, piutang, dan utang dicatat dengan tertib. Selain transaksi usaha, pelaku UMKM juga sudah seharusnya menginven- tarisir kekayaan/asetnya, baik aset lancar maupun aset tetap. Mencatat setiap transaksi sangat penting sebagai bahan untuk menyusun laporan keuangan. Tanpa adanya pencatatan transaksi, maka tidak mungkin laporan keuangan dapat dibuat, setiap transaksi juga harus disertai bukti transaksi, sebagai bukti bahwa transaksi tersebut benar terjadi. Hal ini juga terjadi misalnya pada usaha katering Sahabat Jaya, bahwa pengelola mengaku terlalu sibuk untuk dapat mencatat setiap transaksi, karena itu ketika sudah menerima pembayaran dari pelanggan, semua bukti transaksi di rasa tidakdiperlukan lagi.

Ada juga UKM yang mempunyai catatan transaksi harian dengan tertib, namun hanya berhenti pada pencatatan transaksi operasional saja. Tidak ada pencatatan nilai aset maupun modal. Sehingga apa yang menurutnya menjadi laporan keuangan adalah rekapitulasi debet dan kredit yang di susun setiap periode tertentu (dalam hal ini setiap bulan). Rekapitulasi tersebut mencakup berapa uang yang terpakai untuk operasional serta berapa uang yang masuk dari transaksi penjualan.

Pencatatan transaksi harian yang tertib misalnya yang dilakukan oleh Cedric Footwear. Pencatatan transaksi harian, baik penjualan maupun pengeluaran biaya operasional, selalu dicatat dengan tertib oleh pengelola. Sehingga dapat diketahui biaya operasional dan penjualan yang diperoleh. Catatan-catatan tersebut kemudian disalin kedalam komputer setiap seminggu sekali. Untuk pesanan sudah dibayar oleh pelanggan, maka pembayaran tersebut akan dicatat dalam laporan pemasukan. Hal yang sama juga dapat ditemui pada Gardhoe Jamur pak Agung, pemilik menyatakan bahwa selalu ada catatan transaksi harian yang berisi tentang berapa kilogram jamur yang laku terjual. Transaksi harian ini dilakukan rutin secara periodik dan berkala sesuai dengan jumlah transaksi penjualan terjadi. Pencatatan transaksi yang dilaku-kan masih manual, yaitu ia tulis di buku tulis biasa yang sudah ia bagi menjadi tabel untuk diisi setiap kolomnya menurut jumlah transaksi.

Pada Cedric Footwear maupun Gerdhoe Jamur pencatatan laporan keuangan hanya berhenti pada pencatatan transaksi harian saja. Dengan demikian, usaha akan dianggap untung jika pemasukan lebih besar daripada biaya yang telah dikeluarkan. Namun demikian, untuk catatan keuangan, hanya tersedia catatan arus kas untuk order saja.

Keadaan pada Cedric Footwear maupun Gerdhoe Jamur mirip dengan yang terjadi pada Asia Holiday Travel. Di Asia Holiday Travel, catatan uang masuk dan keluar untuk transaksi penjualan tiket pesawat dan voucher hotel tersebut terbagi menjadi empat mata uang yaitu Rupiah Indonesia (IDR), Ringgit Malaysia (MYR), Dollar Singapura (SGD), serta Dollar Amerika (USD). Pencatatan transaksi harian ini dilakukan rutin setiap hari, dari pukul 5 sore hingga pukul 7 malam. Jika ada pemesanan tiket yang dilakukan melebihi jam 7 maka akan dihitung sebagai transaksi harian untuk esok harinya.

Dalam istilah pengelola (owner), catatan penjualan tersebut disebut sebagai cash flow order. Cash flow order merupakan laporan mengenai jumlah order atau pesanan tiket atau jasa travel yang masuk pada setiap harinya, setelah cash flow order tersebut dibukukan, maka akan disusun laporan nominal dari pemesanan order. Laporan nominal ini disusun biasanya 2-3 hari sekali. Laporan nominal ini disusun untuk mengetahui kesesuaian antara saldo dengan jumlah order yang diterima. Namun demikian, untuk catatan cash flow order dalam rupiah, tercatat juga pengeluaran operasional lain misalnya bayar denda PLN, uang keluar untuk sumbangan, dan lain-lain.

Persepsi bahwa pencatatan setiap transaksi dan aset itu bukan hal yang penting dalam kelangsungan usaha menyebabkan para pelaku UMKM tidak dapat menyusun laporan keuangan yang standar. Secara umum dapat diuraikan kebanyakan persepsi pelaku UMKM terhadap standar laporan keuangan adalah:

  • Pelaku UMKM menganggap bahwa pencatatan transaksi keuangan dan aset tidak berhubungan dengan kelangsungan usaha
  • Pencatatan transaksi dan aset (sebagai bahan laporan keuangan) justru menjadi beban dan dengan demikian meningkatkan biaya jika dikerjakan.
  • Laba atau rugi cukup dilihat antara selisih biaya operasional dan uang

Ada pelaku UMKM yang beranggapan bahwa tidak perlu memonitor perkembangan usaha karena hasil dari usaha adalah untuk kebutuhan pribadi sehari-hari, asal pemasukan lebih besar dari belanja sudah cukup.

Disarikan dari :

Kajian Kwalitas Standar Akuntansi Keuangan Bagi Entitas Micro, Kecil & Menengah (oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya).

-Atau sebagaimana yang mereka katakan-

Nama-nama pada foodnote diambil dari peneliti.

[1] Nama sebuah usaha UMKM

[2] Idem

[3] Idem


Leave a Reply