Apa tantangan paling berat dalam memulai usaha sendiri?

Apa tantangan paling berat dalam memulai usaha sendiri?

Category : Utama

Bukan tidak ada modal, bukan tidak ada ide. Yang paling sulit adalah mempertahankan endurance (daya tahan) berbisnis, tetap bertahan dalam usaha meskipun menghadapi banyak tantangan.  Bagaimana cara memulai bisnis sendiri supaya tidak mudah menyerah ?

Membuka usaha sendiri membutuhkan waktu, tidak bisa instan. Ada proses yang harus dilalui. Mulai dari memikirkan ide awal (mau kerja apa ?), membuka usaha, memperkenalkan dan mempromosikan usaha tersebut. Dalam proses ini, banyak sekali tantangan dan rintangan. Baik dari internal pebisnis sendiri atau yang datang dari eksternal (halangan dari orang lain).

Kiat-kiat Untuk Memulai Usaha.

Tantangan ini tidak jarang menyebabkan pebisnis (pelaku bisnis) layu sebelum berkembang. Tidak kuat dan stress melihat usaha yang dibangun lambat tumbuh (alias tidak sabar), penjualan seret, sementara dana dan tenaga sudah banyak dikeluarkan. Akhirnya pilih mundur, menyerah. Ibarat kepompong, usahanya gagal menjadi kupu–kupu yang bisa terbang.

Statistik dari beberapa survei enterpreunership (kewiraswastaan/org jaman old bilang partikelir) menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku bisnis yang buka usaha sendiri, gagal pada tahap awal. Diduga bahwa kegagalan mempertahankan endurance (seperti petinju yang tidak tahan pukul) menjadi penyebab utama banyak pelaku bisnis pemula gugur di masa–masa awal (jatuh berguguran satu persatu).

Namun, bukan berarti bahwa endurance bisnis tidak bisa dilatih atau dibangun (bayangkanlah Muhamad Ali atau Mike Teyson sedang dipukuli dalam latihan). Buktinya, pengusaha yang sekarang sukses, umumnya bisa bertahan dan lolos dari masa–masa paling sulit.

Membangun Daya Tahan dalam Memulai Usaha Sendiri

Berikut catatan mengenai bagaimana membangun dan mempertahankan endurance berbisnis, supaya bisa tetap fokus saat buka usaha, meskipun kesulitan dan tantangan datang bertubi-tubi.

  1. Punya Mimpi Besar (lebih tepatnya berazam, bukan menghayal ya !)

Mimpi mampu memindahkan gunung, begitu kata salah satu kiasan. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh mimpi, termasuk dalam berusaha. Makanya, saat memutuskan usaha sendiri, kita sebaiknya punya mimpi (azam[1]) atau cita–cita yang jelas dan spesifik yang menjadi alasan utama untuk memulai bisnis sendiri.

Mimpi tersebut sebaiknya sesuatu yang pantas, worthed (layak /masuk akal), untuk dikejar dan diperjuangkan. Jika tidak, mimpi akan mudah dikalahkan atau dinomorduakan oleh tekanan kebutuhan dan tuntutan jangka pendek yang biasanya terlihat lebih urgen (mendesak) untuk dipenuhi.

Ketika bertubi-tubi kesulitan muncul, mimpi (saya lebih suka menyebutnya azam) menjadi penyemangat yang menopang kita untuk tidak menyerah, malah dapat mencarikan jalan keluar. Mimpi menjadi benteng terakhir.

Beberapa motivator terkenal menyarankan bahwa mimpi tersebut harus spesik dan jelas. Dituliskan dalam secarik kertas, kemudian diresapi dan diingat setiap waktu (terus dibakar, abunya taruh dalam gelas, isi air lantas diminum ? jangan gitu .. ah). Dengan demikian, cita – cita itu terinternalisasi dalam diri secara kuat dan mengakar (terobsesi, konjem-bhs jawanya).

  1. Bekerja berdasarkan Passion (gairah/antusias)

Bekerja karena dorongan cinta atau hobi pasti hasilnya akan berbeda. Ada keinginan kuat memberikan yang terbaik. Kasarnya, tidak dibayar pun, kita mau mengerjakan hal tersebut.

Passion merupakan penyemangat yang manjur saat bisnis sedang susah. Walaupun penjualan sedang merosot, tapi karena melakukannya bukan karena tuntutan keuntungan,  namun karena memang menyukainya, kita akan terus berkarya memberikan yang terbaik.

Konsistensi berkarya pada ujungnya akan mendatangkan apresiasi. Sebaliknya, jika bisnis dilakukan karena harapan akan kekayaan semata, ketika muncul tantangan atau kesulitan, yang niscaya pasti ada dalam usaha, semangat pantang menyerahpun mudah luntur. Tidak ada motivasi dari dalam yang menjaga semangat.

Umumnya, membangun usaha sendiri membutuhkan waktu. Jarang yang bisa berhasil dalam jangka pendek. Stamina untuk bertahan paling efektif  adalah motivasi yang muncul dari dalam. Itulah passion, salah satu modal usaha.

  1. Belajar dari Orang Sukses

Banyaklah belajar dari orang–orang yang sudah berhasil. Dari mereka, kita akan paham bahwa jalan memulai usaha itu tidaklah mudah. Ada proses berliku, naik dan turun, terjal, yang mau tidak mau harus dilewati jika ingin berhasil.

Yang sukses pun pernah melewatinya. Mereka berhasil karena bisa bertahan. Kalau dulu berhenti ditengah jalan, pasti keberhasilan yang mereka dapatkan sekarang tidak akan pernah terwujud.

Pengalaman orang sukses ini menjadi reminder yang kuat, menjadi pemompa semangat ketika sedang lelah atau gundah. Kalau para pelaku bisnis yang sukses saja butuh waktu dan bahkan pengorbanan untuk bisa berhasil, wajar saja kita yang baru mulai usaha menghadapi masalah.

Makanya, hadir di seminar, mendengarkan talkshow atau membaca di tabloid mengenai berbagai sharing kisah sukses adalah hal yang sebaiknya rutin dilakukan. Bukan hanya untuk menimba ilmu, tetapi lebih dari itu, menjadi booster (pendorong) semangat ditengah tantangan memulai usaha sendiri.

  1. Pentingnya Support keluarga

Saat bisnis sedang sulit, biasanya cashflow rumah tangga kena imbasnya. Yang dulunya bisa ke mall setiap minggu, atau berlibur setahun dua kali, sekarang harus dikurangi, atau bahkan dihapuskan sama sekali demi berhemat untuk keuangan usaha. (perlu disimak Cara Mengelola Keuangan Keluarga). Keluarga yang paling merasakan dampaknya. Dan reaksi keluarga ikut menentukan terus atau tidaknya usaha tersebut.

Keluarga yang tidak mendukung pasti kerap mengeluh dan tidak mau kompromi. Saya melihat beberapa orang yang akhirnya mundur dari berbisnis karena tekanan dari keluarga, yang ingin tetap mempertahankan gaya hidup, tidak mau prihatin, padahal kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan.

Sebaliknya, keluarga yang mendukung, memberikan semangat dan yang paling penting mau ikut prihatin. Mereka paham bahwa kesulitan sekarang ini akan mendatangkan kesenangan yang lebih besar nantinya.

Makanya, ketika ingin mulai usaha, penting membicarakan dan bicara terbuka kepada keluarga. Menjelaskan bahwa memulai bisnis akan menghadapi masa–masa sulit diawal, tantangan yang tidak mudah, yang membutuhkan dukungan dan pengorbanan dari keluarga.

      5 Dibukukan (dicatat/ditulis)

Rata-rata pelaku bisnis pemula atau bahkan yang sudah berkembang sekalipun mereka malas untuk mencatat apa-apa yang terjadi selama menjalankan bisnisnya, baik itu merupakan catatan pembelian atau penjualan, lebih lagi mengenai biaya (ongkos) yang dikeluarkan dalam rangka melakukan usahanya. Alasannya juga klasik, nanti sajalah mencatatnya, toh aku masih ingat kok transaksinya.

Sampai suatu saat diperlukan untuk menghitung berapa modal yang sudah dikeluarkan, berapa hutang pada supplier, berapa dan pada siapa saja piutang kita. Nah saat itu barulah kebingungan datang akibat lalai dalam pencatatan pembukuan transaksi usaha.

Maka sebaiknya kita waspada dan tidak melalaikan hal yang satu ini yaitu mencatat semua kegiatan bisnis yang kita lakukan. Bukankah ada perintah untuk mencatat semua (QS Al Baqoroh 282)

Saya kutibkan disini :”Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rosul-Nya, jika kalian melakukan transaksi utang-piutang sampai batas waktu yang ditentukan  maka tulislah. Hal ini dimaksud untuk menjaga harta dan menghindari terjadinya perselisihan. Hendaklah ada seorang terpercaya dan bagus ingatannya yang menulisnya. . . al ayat. (Tafsir Al Muyassar – YSPII & Al-Qowam).

Terakhir

Kunci sukses memulai usaha sendiri, tidak hanya produk bagus, strategi pemasaran brilian dan business model, tetapi lebih dari itu, butuh kekuatan dan keuletan untuk terus bertahan. Bisnis itu penuh tantangan dan rintangan. Karena ketika pelaku bisnis mundur sebelum sampai tujuan, segala strategi dan rencana yang jitu serta produk yang mumpuni menjadi sia–sia semuanya.

Disadur dari : Au Kamaa Qola Cermati.com (atau sebagaimana yg dikatakan pemilik artikel ini)

[1]  Niat yang sangat kuat dalam hati untuk melakukan suatu pekerjaan


Leave a Reply