Apakah Usahamu Sehat ?

Apakah Usahamu Sehat ?

Category : Finance

Bagi pelaku usaha menjaga “kesehatan usaha” adalah hal yang selayaknya dilakukan sebagaimana seseorang  yang selalu menjaga kesehatan badan. Kita dapat mengetahui tingkat kesehatan badan dengan cara melakukan general chekup kemudian datang ke dokter untuk minta diterangkan hasil pemeriksaan tersebut. Sama halnya dengan badan kita, “kesehatan usaha” dapat pula kita ketahui dengan cara menghitung rasio-rasio usaha, setelah itu menyerahkan hasil perhitungan kepada “Accounting analisis” yang akan menerangkan seberapa sehat usaha / bisnis yang kita jalankan.

Adapun rasio-rasio tsb antara-lain adalah sebagaimana tertera dibawah ini :

1 Debt-to-Equity Ratio !

Rumus debt-to-equity ratio adalah total utang suatu periode dibagi dengan total modal periode yang sama. Bagi usaha mana pun, memiliki utang adalah hal yang wajar. Namun semakin tinggi total utang dan debt-to-equity ratio, risiko bagi investor semakin tinggi – sebab, ini berarti usaha tersebut memajukan dirinya lewat tumpukan utang (eh – kok persis seperti  negara tetangga kita “Ngastino Puro” !). Apa yang akan terjadi apabila pasar bergejolak (and dolar melonjak-lonjak ?) sehingga perusahaan kesulitan membayar utang? Hal ini juga berlaku bagi para pelaku usaha dengan debt-to-equity ratio tinggi. Berhati-hatilah karena usaha Anda mulai riskan. Sebaliknya, semakin rendah debt-to-equity ratio, risiko usaha semakin kecil dan aman.

 2 Current Ratio !

Ingin mengevaluasi seberapa sehat keuangan Anda untuk melakukan operasi harian atau aktivitas jangka pendek ? Current ratio jawabannya.

Rumus current ratio, atau sebut saja rasio lancar, adalah aktiva lancar (current assets) suatu periode dibagi kewajiban jangka pendek (current liabilities) periode yang sama. Current ratio digunakan untuk melihat kemampuan suatu usaha membayar kewajiban jangka pendek (mbayar utang)lewat asetnya. Karena itu, current ratio merupakan cara cepat untuk menilai kesehatan suatu usaha.

Logikanya, semakin besar current ratio, semakin sehat usaha karena dapat menutupi utangnya tanpa masalah. Current ratio yang rendah (di bawah 1) menunjukkan bahwa usaha tersebut memiliki masalah likuiditas (kurang uang tunai alias cashflow rendah). Juga kemungkinan tidak dapat membayar kewajiban/utang .

Namun, current ratio yang terlalu tinggi (di atas 3) tidak juga menunjukkan kesehatan usaha. Ada banyak dana nganggur diperusahaan dengan current ratio terlalu tinggi. Lebih baik digunakan untuk hal-hal yang dapat memajukan usaha.

3 Net Profit Margin !

Revenue atau pendapatan kotor yang tinggi belum tentu menunjukkan tanda bahwa suatu perusahaan mendulang keuntungan (untung gede). Net profit margin lebih menunjukkan laju keuntungan yang sesungguhnya. Rumus net profit margin adalah laba bersih (pendapatan kotor dikurangi semua biaya dan pengeluaran) dibagi pendapatan kotor (harga dikali jumlah barang yang terjual).

Net profit margin menunjukkan  persen keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam upaya mengelola tingkat pertumbuhan penjualan. Net profit margin juga menunjukkan efisiensi seluruh komponen biaya. Tingkat net profit margin menunjukkan kepiawaian (pinter gitu lho !) dari manajemen perusahaan dalam mengelola usahanya.

Tetapi, tiap jenis usaha pada umumnya memiliki karakter net profit margin yang berbeda. Ada jenis usaha yang memiliki net profit margin rendah. Misalnya usaha penjualan pulsa. Pulsa memiliki net profit margin yang rendah jika dibandingkan dengan usaha restoran.

Sebenarnya, net profit margin berguna untuk menilai apakah suatu perusahaan efisien dan memiliki managemen yang baik. Namun, kita juga harus memaklumi jenis usaha tersebut. Usaha dengan net profit margin rendah belum tentu tidak sehat. Bagi jenis usaha dengan net profit margin rendah, lebih baik menilai kesehatannya lewat volume penjualan. Usaha dengan net profit margin rendah harus selalu diimbangi dengan volume penjualan yang besar demi menambah keuntungan (mendulang keuntungan itu tadi).

From Modalku (atau sebagaimana yg dia katakan)


Leave a Reply